Harus Tahu, Ini Resiko Mobil Matik Bekas Jarang Ganti Oli Transmisi

Kamis, 14 Maret 2024 | 15:02
Otomotifnet.com

Ilustrasi transmisi matik pada Suzuki Jimny

Otoseken.id - Di kota-kota besar yang sering terkena macet mengendarai mobil matik cenderung lebih nyaman ketimbang transmisi manual.

Arus lalu lintas yang macet, membuat transmisi bekerja lebih maksimal, beberapa pengemudi yang mengeluhkan transmisi menjadi kasar dan ada gejala jedug.

Ada beberapa hal yang menjadi penyebab transmisi matik menjadi kasar dan gejala jedug.

"Pemilik mobil yang biasa kerja di Jakarta itu kan sering kena macet, untuk itu mereka harus memperhatikan betul kondisi oli transmisi," terang pria yang disapa Apuy, Owner dari spesialis transmisi matik Sakira Abadi Motor, Tangerang.

Apuy menjelaskan, tranmisi matik punya unit yang mengontrol hidrolik (hydrolic control unit), komponen ini berfungsi untuk mengontrol transmisi otomatis memakai tekanan dari pompa oli.

Untuk itu, oli transmisi menjadi nyawa transmisi matik, karena transmisi otomatis sangat mengandalkan tekanan oli.

Oli yang sudah lama tidak diganti dapat menimbulkan endapan dan menyisakan residu, ini membuat kinerja transmisi tidak optimal sehingga muncul gejala transmisi menjadi kasar dan timbul jedug-jedug.

Baca Juga: Lebih Awet Transmisi Matik CVT atau AT? Ini Kelebihan dan Kekurangannya

Abdul Aziz Masindo

Oli Transmisi CVT

Penggantian oli transmisi disarankan mengikuti manual book yang sudah disediakan pabrikan mobil.

Contoh untuk mobil Suzuki Ertiga, penggantian oli tranmisi matik setiap 40 ribu kilometer atau 24 bulan, sementara Toyota Avanza di interval 80 ribu kilometer atau 48 bulan.

Anda juga bisa mengecek kualitas oli transmisi menggunakan dipstik oli transmisi yang berada di ruang mesin.

Halaman Selanjutnya

"Kualitas oli yang masih baik biasanya berwarna…
Tag

Sumber Otoseken.id